Dengar Aspirasi Warga Momiwaren, Mentrans Dorong Pengembangan Hasil Laut

EdithNews.com (Manokwari Selatan) – Kebutuhan alat pertanian, pupuk, dan jalan produksi yang disampaikan warga Kawasan Transmigrasi Momiwaren akan dikoordinasikan Kementerian Transmigrasi dengan instansi terkait. Pada saat yang sama, potensi hasil laut seperti tuna, kerapu, dan lobster mulai dipetakan sebagai sumber pekerjaan dan pendapatan baru bagi masyarakat.

 

Aspirasi tersebut disampaikan dalam dialog Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara bersama masyarakat lokal, warga transmigran, pemerintah daerah, dan Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) di Distrik Oransbari, Kabupaten Manokwari Selatan, Papua Barat, Sabtu (12/9).

 

Mentrans Iftitah menegaskan bahwa pembangunan transmigrasi saat ini harus memberikan manfaat ekonomi secara langsung. Masyarakat tidak cukup hanya memperoleh tempat tinggal, tetapi juga perlu memiliki keterampilan, pekerjaan, dan sumber pendapatan yang berkelanjutan.

 

“Program transmigrasi hari ini adalah memampukan rakyat Papua agar memiliki keterampilan dan kemampuan untuk menghasilkan produk yang bernilai ekonomi,” ujarnya.

 

Dalam dialog tersebut, warga menyampaikan sejumlah kebutuhan yang memengaruhi produktivitas pertanian. Sutikno, salah seorang warga transmigran, mengatakan petani masih membutuhkan alat pengolahan lahan dan mesin panen agar pekerjaan dapat dilakukan lebih cepat dan efisien.

 

“Pertanian kami di bidang persawahan masih kekurangan alat-alat pertanian, terutama bajak dan alat untuk panen. Jalan produksi sebagian sudah dibangun, tetapi masih perlu dilanjutkan,” ungkapnya.

 

Ia juga menyampaikan bahwa ketersediaan pupuk masih perlu ditingkatkan untuk mendukung hasil pertanian masyarakat.

 

Menanggapi aspirasi tersebut, Mentrans Iftitah meminta jajaran Kementerian Transmigrasi mencatat kebutuhan warga dan mengoordinasikan tindak lanjutnya. Dukungan yang diberikan nantinya diharapkan benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan potensi ekonomi kawasan.

 

Selain sektor pertanian, Kementerian Transmigrasi bersama TEP ITS memetakan potensi perkebunan, peternakan, perikanan, dan usaha masyarakat. Pemetaan tersebut diperlukan untuk menentukan komoditas unggulan yang paling layak dikembangkan, termasuk peluang pasar dan teknologi pengolahannya.

 

Mentrans Iftitah secara khusus menyoroti potensi pesisir Oransbari. Komoditas seperti tuna, kerapu, dan lobster dinilai dapat menjadi sumber penghidupan baru apabila didukung dengan keterampilan, sarana produksi, pengolahan hasil, dan akses pasar.

 

“Saya tidak mau memindahkan orang hanya untuk memindahkan tempat tidurnya. Saya ingin ketika orang berpindah, ada pekerjaannya,” tegasnya.

 

Menurutnya, pembangunan rumah dan infrastruktur tetap penting, tetapi harus terhubung dengan kegiatan ekonomi. Jalan produksi, misalnya, bukan hanya fasilitas fisik, melainkan akses bagi petani untuk membawa hasil panen ke pasar dengan lebih mudah dan efisien.

 

Melalui TEP ITS, potensi dan persoalan masyarakat Momiwaren dikaji secara langsung untuk menghasilkan rekomendasi pengembangan kawasan. Perguruan tinggi juga diharapkan menghadirkan pengetahuan, teknologi tepat guna, dan pendampingan yang dapat diterapkan sesuai kondisi masyarakat.

 

Keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Warga tidak hanya menjadi penerima program, tetapi turut menentukan kebutuhan, potensi yang akan dikembangkan, serta bentuk pendampingan yang paling bermanfaat.

 

Melalui Transformasi Transmigrasi, Kementerian Transmigrasi mengarahkan pembangunan Momiwaren pada manfaat yang nyata bagi masyarakat: petani lebih produktif, hasil bumi dan laut memiliki nilai jual lebih tinggi, kesempatan kerja bertambah, serta pendapatan warga lokal dan transmigran meningkat secara berkelanjutan.

(Nur)

Sharing Social:
Mohammad Bucheri
Mohammad Bucheri
Articles: 667

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *