
Kemenekraf dan BI Perkuat Regenerasi Pegiat Ekonomi Kreatif
Edithnews.com (Jakarta) 22 Agustus 2026 – Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) memperkuat kolaborasi dengan Bank Indonesia (BI) untuk mendorong regenerasi pegiat usaha kreatif dan memperkuat peran generasi muda dalam pertumbuhan ekonomi kreatif nasional. Kolaborasi ini dikemas dalam acara _Youth Talk_ Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026 bertajuk “Kreasi Karya, Generasi Berdaya: Peran Anak Muda dalam Mendorong Inovasi dan Kewirausahaan”.
Menteri Ekraf, Teuku Riefky Harsya, mengapresiasi konsistensi BI dalam menghadirkan KKI sebagai wadah penguatan UMKM dan ekonomi kreatif. Menurutnya, KKI telah berkembang menjadi platform kolaborasi untuk meningkatkan kapasitas, kualitas, kontinuitas, hingga akses pasar bagi pegiat usaha kreatif.
“Tentu dalam implementasinya, generasi muda diposisikan bukan hanya sebagai sasaran pengembangan, namun diberikan peran sebagai aktor utama dalam penguatan ekosistem ekonomi kreatif,” jelas Menteri Ekraf di Jakarta International Convention Center (JICC), Sabtu (22/8).
Menteri Ekraf mengatakan kolaborasi dengan BI perlu diperkuat untuk menjawab tantangan pengembangan ekosistem ekonomi kreatif, mulai dari pembiayaan, digitalisasi, dan akses pasar hingga pengembangan _e-commerce_ berbasis potensi daerah. Berdasarkan data BPS, sektor ekonomi kreatif kini menyerap sekitar 27,4 juta tenaga kerja, dengan 63 persen di antaranya merupakan Gen Z dan milenial. Sektor ini juga menyumbang 7,38 persen terhadap PDB nasional dan ditargetkan meningkat menjadi 8 persen sebelum 2029.
“Penguatan yang ingin kami kolaborasikan dengan BI kaitannya dengan _creative financing, creative digitalization, creative market access_, hingga pengembangan _e-commerce_ berbasis potensi daerah. Dari talenta tumbuh kreativitas yang melahirkan karya, kemudian tercipta kekayaan intelektual yang bernilai, berkembang, dan menggerakkan ekonomi. Kementerian Ekraf juga sudah memiliki Rindekraf sebagai arah jalannya, anak muda adalah talentanya, dan ekonomi kreatif menjadi ruang tumbuh serta berdaya,” tambah Menteri Ekraf
Sejalan dengan Rencana Induk Ekonomi Kreatif (Rindekraf) 2026–2045, pemerintah mendorong penguatan talenta, pembiayaan, infrastruktur, akses pasar, serta insentif untuk menciptakan ekosistem ekonomi kreatif yang semakin inklusif dan berdaya saing. Kolaborasi Kementerian Ekraf dan BI juga diarahkan pada sejumlah agenda, antara lain strategi pendanaan dan pembiayaan melalui forum bisnis, pengembangan _big data_ ekonomi kreatif untuk mengidentifikasi ekspor jasa kreatif, aktivasi ruang publik dan ruang kreatif di daerah, pemetaan data serta pasar, hingga pengembangan skema insentif berbasis ekonomi kreatif hijau (_green economy_).
Di tempat yang sama, Deputi Gubernur BI, Thomas AM Djiwandono menilai UMKM memiliki peran strategis bagi perekonomian nasional, namun keberlanjutan usaha khususnya sektor berbasis keterampilan dan budaya membutuhkan regenerasi. Thomas mendorong generasi muda tidak hanya meneruskan usaha yang telah ada, tetapi juga memperbaruinya melalui kreativitas, teknologi, digitalisasi, serta kemampuan membaca pasar.
“UMKM memiliki peran yang sangat strategis bagi perekonomian Indonesia. Kontribusinya sekitar 61 persen terhadap PDB nasional dan menyerap lebih dari 97 persen tenaga kerja. Namun, keberlanjutan UMKM juga menghadapi tantangan regenerasi, terutama pada sektor-sektor berbasis keterampilan dan budaya seperti wastra dan kriya,” ujar Thomas Djiwandono.
Menurut Thomas, generasi muda memiliki modal besar untuk membawa produk berbasis budaya Indonesia menjadi semakin kompetitif. Gen Z dan milenial yang dekat dengan teknologi, media sosial dan ekonomi digital dinilai dapat menjadi pencipta karya, inovator sekaligus wirausahawan yang mampu memperluas jangkauan produk lokal.
“Saya ingin menetapkan tiga pesan pada generasi muda. Peran pertama, berani berkarya. Jangan hanya melihat UMKM dan ekonomi kreatif sebagai usaha tradisional, tetapi sebagai ruang untuk menciptakan peluang serta nilai ekonomi baru. Kedua, terus berinovasi memanfaatkan teknologi, kreativitas, dan cara-cara baru untuk membuat produk Indonesia semakin relevan serta kompetitif. Ketiga, tetap menjaga identitas. Inovasi tidak berarti meninggalkan akar, justru kekayaan budaya Indonesia merupakan kekuatan dan pembeda di tengah persaingan global,” imbuh Thomas.
Acara dilanjutkan dengan _talkshow_ yang menghadirkan perwakilan Bank Indonesia, akademisi, serta pegiat usaha kreatif untuk membahas penguatan peran generasi muda, inovasi, regenerasi usaha, dan strategi pengembangan produk kreatif.
Turut mendampingi Menteri Ekraf Teuku Riefky Harsya yakni Plt. Deputi Bidang Pengembangan Strategis Ekonomi Kreatif sekaligus Direktur Kajian dan Manajemen Strategis, Agus Syarip Hidayat.
*Kiagoos Irvan Faisal
*Kepala Biro Komunikasi
*Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif



